Banyak
orang tidak tau bahwa dia pernah tidur dengan perut kosong, dia pernah
dilecehkan secara seksual oleh teman-temannya, dia pernah dianiaya oleh bossnya
dan dikucilkan oleh orang-orang di kampungnya, dia pernah menjadi petani dan “mengasak”
apapun yang jatuh di sawah dari sisa panen tetangga. Sekarang dia berada di
sebuah kota tua yang indah di Eropa, dia tidak pernah bermimpi untuk
menginjakkan kaki di sana tetapi dia diberkati.
Namanya Ani,
gadis manis yang tak banyak yang tau kemanisannya karena banyak orang di
kampungnya hanya melihat kecantikan dari putihnya kulit dan tebalnya dompet. Banyak
orang tidak mempedulikan kebaikan dan ketulusan hati. Ani sedih sekali dan dia
tidak merasa nyaman lagi tinggal di desa itu, orang tuanya melarat dan tidak
sanggup membiayai sekolah dia yang akan segera naik ke SMA. Dia baru 14 tahun
menginjak 15, dia menatap ke rumah yang reot dan menatap kedua orang tuanya
yang tidak berpendidikan tinggi dan adiknya yang baru berusia 4 tahun. “Aku tak
sanggup tinggal lama di sini, semua orang punya sumber income yang menjamin
dari luar negeri, tapi apa daya aku baru 14 tahun”,
Sepulang dari ujian sekolah SMP siang itu Ani mengungkapkan
uneg-unegnya ke ibunya yang dia panggil Mamak. “Mamak, golekno aku kerjo, aku
gah nerosne neng SMA, wes kesel aku sekolah” yang berarti Mama tolong carikan
aku kerja, aku udah tidak mau melanjutkan sekolah aku sudah capek sekolah. Dia berbohong ke mamanya, di hatinya
Ani kepengen banget bisa melanjutkan sekolah tetapi keadaan orang tuanya yang miskin
membuatnya tidak berdaya, dia tau orang tuanya ingin agar Ani berhenti sekolah
tanpa mereka mengucapkannya. Itulah kenyataan yang dia punya, masih belia dan
terpaksa harus putus sekolah dan kerja penuh waktu untuk membantu perekonomian
keluarga.
Hati Ani
mengharap agar orang tuanya mencegahnya tetapi kedua orang tuanya malah
menyambut dengan suka cita atas keputusan Ani untuk berhenti sekolah, dia telan ludahnya sambil menangis di hatinya karena orang yang dia fikir sebagai penolongnya malah membutuhkan pertolongannya. Ani mencoba mengalihkan perasaan kecewanya dengan menganggap ini adalah sebagai balasan kepada orang tuanya yang sudah hampir 15 tahun menghidupinya. Toh kebanyakan tetangga di kampungnya juga mengalami nasib yang sama, banyak para istri kerja keluar negeri seperti Arab Saudi atau Malaysia, sedang para suami tinggal di rumah menjadi bapak rumah tangga mengasuh anak dan menjaga sawah. Ada banyak juga anak-anak perempuan muda baru lulus SMP/SMA langsung berhenti sekolah lalu kerja ke luar kota atau menikah.
Namun Ani tidak berfikir jauh untuk menikah muda, dia tau tidak ada laki-laki satupun di kampungnya yang tertarik kepadanya, tidak seperti teman-teman sebayanya yang sering digodai banyak cowok di kampung. Kadang Ani merasa iri atau cemburu dan bahkan sedih kenapa tidak ada satupun laki-laki yang tertarik kepadanya. Dia teringat masa-masa di saat dia masih usia 7 tahunan, tetangga depan rumahnya yang juga kakak kelasnya beserta teman-teman sebayanya mem-bully dia. Mereka mengusulkan kalo Ani pengen berteman dengan mereka dia harus mau main" tidur-tidur-an" dengan salah satu teman laki-laki sebayanya. Ani yang polos tidak paham maksud semua itu dan dia mau saja melakukan apapun yang teman-teman dia minta karena Ani tidak punya teman lain. Ani adalah anak tunggal kala itu karena adik laki-lakinya meninggal saat dia baru berusia 1 tahun dan dia baru mendapatkan adik perempuan saat dia berusia 10 tahun.
Ani sudah tidak betah tinggal di kampungnya, dia memang berbeda dari anak-anak lain di kampungnya karena Ani berfikir kritis, dia merasa ada banyak orang yang munafik, sok alim atau sok suci dan gila hormat. Ani remaja mulai berfikir kritis, otaknya tumbuh dan punya banyak pertanyaan tentang kehidupan di sekitarnya, mengapa orang-orang di kampungnya bertingkah demikian, mengapa tidak ada kemajuan sedangkan di TV ada banyak hal-hal yang baru yang tidak ada di kampungnya, dia bertanya apakah yang ada di TV itu palsu dan tidak nyata hanya sekedar gambar? Kenapa orang tuanya tidak pernah mengajak dia rekreasi ke suatu tempat seperti ke kebun binatang layaknya teman-teman lainnya? Ani merasa terkurung di suatu tempurung kelapa dan dia ingin sekali meninggalkan kampung itu meski hatinya sedih, meski itu bukanlah harapan utamanya karena harapan utama dia adalah melanjutkan sekolah tetapi keadaan memaksanya mengambil jalan lain.
Ujian akhir SMP sudah selesai dan Ani sedang menunggu hasil nilai dan ijazahnya, disetiap waktu senggang atau libur dia menggunakan waktunya untuk mencari kayu bakar di pinggiran sungai dekat rumahnya atau juga bekerja di sawah membantu orang tuanya atau tetangganya, dia senang sekali saat mendapatkan upah, dia kumpulkan dan ketika sudah mulai banyak dia pergi ke pasar untuk membeli jajan yang dia suka atau baju atau tali rambut.
Siang itu ibunya pulang dari puskesmas habis memeriksakan adiknya yang sakit, ibunya memanggil "Nduk nduk, awakmu omonge pengen kerjo to, aku mau ketemu mantri neng puskesmas, wonge golek pembantu nggo njogo anak, aku wes ngomong neng wonge nek aku nduwe anak seng pengen kerjo, sesok wonge rene, piye gelem po ra?" yang artinya ibunya bertemu seorang dokter yang membutuhkan pengasuh bayi dan dia menawarkan Ani untuk bekerja dengannya.
Sedih menyelimuti hati Ani karena ibunya benar-benar ingin agar dia bekerja menjadi tulang punggung keluarga, Ani merasa itu tidaklah adil, dia masih merasa sangat muda, dia iri sama nasib teman-teman sebayanya yang tidak perlu memikirkan financial keluarganya karena orang tua mereka bisa mencari uang, punya sawah yang lebar atau saudara yang bekerja di luar negeri, Ani menggerutu kenapa ibunya tidak bisa ke luar negeri? Kenapa ibunya harus buta huruf? kenapa ayahnya tidak bisa berdagang? Ani sedih tetapi Ani juga bahagaia karena pada akhirnya dia bisa meninggalkan kampung halaman yang dia sangat cintai. Pada akhirnya keadaan memaksanya untuk memilih, memilih untuk menjadi dewasa sebelum waktunya dan dengan lapang dada menerimanya.
Seumur-umur, Ani belum pernah merasakan pahitnya atau sedihnya perpisahan. saat Ani masih kecil dia sangat sayang kepada orang tuanya, dia merasa seperti putri yang punya pelindung, namun saat dia menginjak remaja dia merasa bahwa dia harus melindungi dirinya sendiri bahkan melindungi orang tuanya. Maka dari itu Ani bertekad meninggalkan kedua orang tuanya beserta adiknya ke kota sebelah saat dia baru berusia 14 tahun. Bagi Ani ini adalah cara dia menunjukkan kasih sayangnya kepada kedua orangtuanya dan adik semata wayangnya.

